Episode 1: Sore Itu
Sore itu Jakarta sedang berbaik hati. Hujan yang sejak siang menggantung di langit tidak jadi turun, dan jalan dari kantor ke rumah lebih lengang dari biasanya. Fani sempat mampir ke minimarket di ujung kompleks untuk membeli susu kotak rasa cokelat dan sebungkus roti sobek, karena tadi pagi George bilang stok di kulkas tinggal satu. Sambil menunggu kembalian, ia bahkan sempat berpikir bahwa ini akan jadi sore yang menyenangkan. Mandi, makan malam, lalu menonton satu episode serial yang sudah tiga minggu mereka tunda.
Pagar rumah tidak dikunci. Itu biasa. George memang selalu lupa.
Yang tidak biasa adalah suara itu.
Fani mendengarnya bahkan sebelum membuka pintu depan: tangisan anaknya, tinggi dan putus-putus. Bukan tangisan minta mainan atau camilan. Tangisan seseorang yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Kantong belanjaan masih tergantung di tangannya ketika ia sampai di ambang pintu kamar.
George tergeletak di lantai, di antara ranjang dan lemari. Satu sandal rumahnya terlepas, terlempar ke dekat pintu kamar mandi. Kaus abu-abu yang tadi pagi ia pakai saat mengantar Fani sampai teras tersingkap sedikit di bagian perut. Wajahnya menghadap langit-langit dan matanya terpejam. Untuk sepersekian detik, Fani mengira George sedang bercanda. Nanti ia akan mengingat pikiran bodoh itu berkali-kali. Ia mengira sebentar lagi George akan membuka mata dan tertawa, kena kamu.
Tapi dada George tidak naik turun seperti seharusnya.
Anak mereka berdiri di sudut kamar, memeluk boneka kelincinya, memanggil "Papa" kepada laki-laki yang tidak menjawab.
Kantong belanjaan jatuh. Susu kotak menggelinding ke bawah ranjang.
Fani tidak berteriak. Berbulan-bulan kemudian, ia akan bertanya-tanya kenapa. Kenapa tubuhnya tahu harus berbuat apa, sementara kepalanya belum mengerti apa-apa. Ia berlutut di samping George, menyebut namanya sekali, dua kali, menepuk pipinya yang masih hangat. Lalu ia berdiri, mengangkat anaknya, dan menempelkan kepala kecil itu ke bahunya.
"Sst. Mama di sini. Mama di sini."
Dengan tangan yang lain, ia mencari ponsel di dalam tas.
Adik George yang pertama ia telepon, karena hanya nomor itu yang terlintas. Lalu Rina, sahabatnya sejak kuliah. Lalu Pak Darto di rumah sebelah. Pak Darto datang dengan sarung dan kaus oblong, terdiam lama di ambang pintu kamar, lalu ikut mengangkat tubuh George ke kursi belakang mobil.
Tubuh itu berat. Fani tidak pernah tahu George seberat itu. Selama enam tahun, George-lah yang selalu mengangkat: galon, koper, anak mereka yang tertidur di sofa. Kadang Fani sendiri, sambil tertawa, waktu mereka masih pengantin baru dan semuanya masih terasa seperti lelucon yang baru ditemukan.
Anaknya ia titipkan pada istri Pak Darto. Fani mencium kening yang lembap oleh keringat dan air mata itu, berjanji akan segera kembali, tanpa tahu apakah janji itu bisa ia tepati.
Jalan ke rumah sakit hanya dua puluh menit. Sore itu terasa seperti dua jam.
Kedua tangan Fani mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia menyetir dengan sangat hati-hati, terlalu hati-hati, seperti orang yang takut satu kesalahan kecil akan meruntuhkan seluruh dunia. Di setiap lampu merah, ia menoleh ke belakang. George masih di sana, terbaring miring dengan kepala di atas bantal sofa yang tadi sempat Fani sambar. Matanya masih terpejam.
Kalau tadi aku pulang lebih cepat.
Lampu berganti hijau. Ia menginjak gas.
Kalau tadi pagi aku dengar dia batuk. Dia batuk nggak, sih? Apa aku yang nggak dengar?
Kalau semalam aku suruh dia tidur lebih awal, bukan malah nonton bareng sampai jam satu.
Kalau. Kalau. Kalau.
Kata itu berputar di kepalanya seperti lalat yang tidak mau pergi. Ada ratusan pintu kemungkinan, dan semuanya sudah terkunci.
Ia menoleh lagi. George masih di sana.
"Bentar lagi, ya," katanya ke arah kursi belakang. Suaranya terdengar sangat tenang. "Bentar lagi sampai."
Di UGD, semuanya bergerak cepat, lalu tiba-tiba berhenti.
Perawat membawa George ke balik tirai hijau. Seseorang menyodorkan papan berpenjepit dan pulpen kepada Fani. Nama pasien. Tanggal lahir. Riwayat penyakit. Fani mengisinya dengan tulisan yang rapi, lebih rapi dari biasanya, seolah kerapian itu penting. Seolah kalau formulir ini diisi dengan benar, semuanya akan baik-baik saja.
Lalu tirai itu terbuka, dan seorang dokter muda keluar dengan langkah yang terlalu pelan.
Fani sudah tahu sebelum dokter itu bicara. Ia tahu dari cara dokter itu melepas sarung tangannya satu per satu, tanpa terburu-buru. Ia tahu dari cara dokter itu menatapnya, tidak tepat di mata, tapi sedikit di bawahnya.
"Ibu istrinya?"
"Iya."
"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha. Tapi sudah terlambat."
Fani mengangguk.
Ia mengangguk dan mendengarkan penjelasan yang setelahnya tidak bisa ia ingat satu kata pun. Ia menandatangani apa yang perlu ditandatangani. Ia menanyakan apa yang perlu ditanyakan: soal jenazah, soal surat-surat, soal apa yang harus ia lakukan sekarang. Waktu adik George datang berlari dari ujung lorong dengan wajah yang sudah pecah, justru Fani yang memeluknya. Fani yang mengusap punggungnya.
Ia tidak menangis.
Tiga hari berikutnya berlalu seperti film yang diputar tanpa suara.
Rumah penuh orang. Ada yang membawa makanan, ada yang membawa amplop, ada yang hanya duduk di teras dan merokok tanpa bicara. Kursi-kursi plastik disewa. Karangan bunga berdatangan, berderet di sepanjang pagar sampai ke depan rumah Pak Darto. Fani menerima semuanya. Ia mengucapkan terima kasih. Ia memastikan semua tamu kebagian air minum. Ia mengingatkan ibu mertuanya untuk makan.
Di pemakaman, di bawah langit yang akhirnya menurunkan gerimis, orang-orang memeluknya satu per satu.
"Kamu kuat banget, Fan."
"Kamu hebat. Tegar banget."
"George pasti bangga sama kamu."
Fani mengangguk. Ia menerima pelukan demi pelukan, dan di dalam setiap pelukan itu ia menunggu sesuatu di dadanya pecah. Tidak ada yang pecah.
Mereka salah. Ia tidak kuat. Ia tidak tegar.
Ia hanya belum percaya.
Ada bagian dari dirinya, yang keras kepala dan bodoh dan setia, yang masih menunggu ponselnya bergetar. Yang masih menunggu nama George muncul di layar dengan pesan yang sama seperti setiap sore selama enam tahun: Udah jalan pulang? Mau dibeliin apa buat makan malam?
Tanah merah itu diratakan. Bunga ditaburkan. Fani berdiri di sana sampai gerimis berubah jadi hujan, sampai Rina menarik lengannya pelan dan membawanya ke mobil.
Ia tidak menangis.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sore itu, rumah benar-benar sepi.
Para tamu sudah pulang. Kursi plastik sudah dilipat dan disandarkan ke dinding garasi. Ibu mertuanya malam ini menginap, dan anaknya tertidur di pelukan neneknya di kamar depan, kelelahan setelah tiga hari yang tidak bisa ia pahami. Yang tersisa hanya bau bunga yang mulai layu dan suara jam dinding yang entah kenapa terdengar lebih keras dari biasanya.
Fani masuk ke dapur. Ia ingin membuat teh. Bukan karena haus, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan.
Ia menjerang air. Ia mengambil cangkir biru bergambar paus, hadiah ulang tahun dari George yang selalu ia bilang jelek tapi tetap ia pakai setiap hari. Ia membuka toples gula di samping kompor.
Kosong. Tiga hari tamu datang dan pergi, dan semua orang minum teh manis.
Toples cadangan ada di rak paling atas lemari dapur. Fani tahu persis letaknya: pojok kanan, di belakang kaleng biskuit Lebaran tahun lalu. Ia tahu karena dulu ia sendiri yang minta toples itu disimpan di sana. Tepatnya, George yang menyimpannya, karena Fani tidak pernah bisa menjangkau rak itu. Rak itu selalu milik George. Setiap kali Fani butuh sesuatu dari sana, ia cukup menyebut nama George dari dapur, dan George akan datang dari mana pun, mengulurkan tangannya yang panjang, dan mengambilkannya tanpa perlu berjinjit. Kadang sambil menggoda, makanya minum susu, Bu. Kadang sambil mencium ubun-ubunnya.
Fani mengangkat tangannya.
Ujung jarinya bahkan tidak menyentuh pintu rak.
Ia berjinjit. Masih tidak sampai.
Lalu, tanpa berpikir, dengan kebiasaan enam tahun yang belum tahu bahwa semuanya sudah berubah, Fani menoleh ke arah ruang tengah dan membuka mulut untuk memanggil...
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya sofa yang kosong. Hanya televisi yang mati. Hanya sandal rumah George, yang entah oleh siapa dipungut dari kamar dan diletakkan rapi di dekat pintu, sepasang, seolah pemiliknya akan segera kembali untuk memakainya.
Lalu semuanya datang sekaligus.
Kencan pertama mereka di warung bakmi dekat kantor lamanya, waktu George menumpahkan es teh ke kemejanya sendiri karena terlalu gugup. Cara George membangunkannya setiap pagi, Fan, Fan, bangun, Fan, dengan suara yang masih serak. Malam ketika George berlutut di ruang tamu kontrakan mereka yang sempit tanpa cincin, karena katanya ia ingin bertanya dulu sebelum membeli, takut Fani tidak suka modelnya. Tangisan pertama anak mereka di ruang bersalin, dan wajah George yang basah, lebih basah dari wajah Fani sendiri. Tangan George di punggungnya setiap kali ia tidak bisa tidur. Suara George bersenandung di kamar mandi, selalu lagu yang sama, selalu fals di nada yang sama.
Enam tahun. Semuanya masih di sini, di dapur ini, di rak yang terlalu tinggi ini.
Dan semuanya sudah tidak ada.
Baru sekarang Fani mengerti. Bukan di kamar sore itu. Bukan di UGD. Bukan di pemakaman. Di sini, di depan lemari dapur, dengan tangan terangkat ke rak yang tidak bisa ia jangkau.
George tidak akan pulang.
Lututnya menyerah lebih dulu. Fani merosot ke lantai, punggungnya bergesekan dengan pintu lemari. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar asing di telinganya sendiri, suara yang tidak pernah ia tahu bisa ia keluarkan. Ia menangis sampai napasnya tersengal. Ia menangis untuk sore itu, untuk tiga hari tanpa air mata, untuk enam tahun, untuk semua tahun yang seharusnya masih ada. Ia menangis sampai ubin dapur di bawah pipinya basah dan dingin.
Di atas kompor, air yang ia jerang mendidih, terus mendidih, lalu perlahan habis.
Dua minggu kemudian, atas desakan Rina, Fani duduk di sebuah ruang praktik di lantai tiga sebuah klinik di Jakarta Selatan.
Ruangannya tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada sofa panjang. Hanya dua kursi yang berhadapan, sebuah meja kecil, dan tanaman di sudut yang daunnya mengilap seperti baru dilap. Di meja ada segelas air putih yang dituangkan untuknya. Fani tidak menyentuhnya.
Dokter di hadapannya laki-laki, mungkin awal empat puluhan, dengan suara yang pelan dan tidak terburu-buru. Di jas putihnya tersulam nama: dr. Jerren.
Ia tidak banyak bicara. Ia lebih banyak mendengarkan.
Dan Fani, yang selama dua minggu hanya menjawab "aku baik-baik aja" kepada semua orang, ternyata punya banyak hal untuk diceritakan. Tentang sore itu. Tentang susu kotak yang menggelinding ke bawah ranjang dan masih ada di sana karena ia tidak sanggup mengambilnya. Tentang tiga hari tanpa air mata. Tentang toples gula. Tentang rak yang terlalu tinggi.
"Orang-orang bilang saya kuat," katanya. "Padahal saya cuma... nggak ngerasa apa-apa. Terus tiba-tiba di dapur, gara-gara toples gula..." Ia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Bodoh, ya, Dok?"
Dr. Jerren meletakkan pulpennya.
"Nggak bodoh, Bu Fani," katanya pelan. "Di pemakaman, Ibu dikelilingi orang yang butuh Ibu tetap berdiri. Di dapur, Ibu akhirnya sendirian." Ia diam sebentar. "Duka memang jarang datang di tempat yang kita siapkan untuknya."
Fani menunduk. Untuk pertama kalinya hari itu, ia meraih gelas air di meja dan meminumnya.
"Saya nggak bisa tidur, Dok," katanya akhirnya. "Setiap merem, saya nunggu dia pulang."
Dr. Jerren mengangguk pelan, lalu menulis sesuatu di kertasnya. Waktu Fani berdiri untuk pamit, dokter itu mengantarnya sampai pintu.
"Malam ini dicoba tidur lebih awal, ya, Bu."
Sore itu Fani pulang membawa selembar resep dan jadwal kontrol minggu depan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak George pergi, Fani tertidur sebelum tengah malam.
Dan ia bermimpi.
Ia berdiri di dapur rumahnya. Dapur yang sama, ubin yang sama, lampu kuning yang sama. Ada bau teh di udara. Di luar jendela, langit berwarna jingga, seperti pukul lima sore.
Seseorang berdiri di depan lemari.
Punggungnya lebar, dibalut kaus abu-abu yang Fani kenal. Tangannya terulur ke rak paling atas, meraih sesuatu di pojok kanan, di belakang kaleng biskuit Lebaran, dengan mudah, tanpa perlu berjinjit. Seperti yang selalu ia lakukan.
Fani tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.
Laki-laki itu berbalik dengan toples gula di tangannya, lalu tersenyum. Senyum yang sedikit miring, senyum yang selama enam tahun menyambut Fani setiap sore.
"Nyari ini, kan?"
Episode 2: Rumah yang Retak
Fani terbangun dengan tangan terulur ke udara.
Kamar masih gelap. Jam di ponselnya menunjukkan pukul empat lewat sepuluh. Di sisi kiri ranjang, sisi George, seprainya rata dan dingin, persis seperti semalam. Tidak ada toples gula. Tidak ada senyum yang sedikit miring itu.
Tapi tangannya masih menyimpan sesuatu. Hangat jari-jari yang menyentuh jarinya ketika toples itu berpindah tangan. Begitu nyata sampai Fani lama tidak berani menurunkan tangannya, seolah rasa itu bisa jatuh dan pecah kalau ia bergerak terlalu cepat.
Ia berbaring seperti itu sampai azan subuh terdengar dari masjid di ujung kompleks. Memandangi langit-langit. Mengulang dua kata itu di kepalanya, pelan, seperti orang yang takut lupa nomor telepon.
Nyari ini, kan?
Hari itu ia menjalani semuanya dengan baik.
Ia membuat nasi goreng untuk anaknya, dengan telur ceplok yang kuningnya sengaja dipecah karena anaknya tidak suka yang meleleh. Ia membalas pesan-pesan dukacita yang masih berdatangan, satu per satu, dengan kalimat yang sama. Ia menelepon kantor dan bilang akan masuk lagi minggu depan. Ia bahkan menyapu teras, menyapu kelopak-kelopak bunga kering yang terbawa angin dari karangan bunga di pagar.
Tapi ada yang berbeda, dan Fani menyadarinya sekitar pukul tujuh malam, ketika ia mendapati dirinya melirik jam dinding untuk kesekian kalinya.
Selama enam tahun, jam segini adalah jam menunggu. Menunggu suara motor George masuk garasi. Menunggu pintu dibuka dan suara aku pulaaang yang selalu dipanjangkan, sengaja, karena anak mereka suka menirukannya.
Malam ini ia juga menunggu. Tapi bukan menunggu seseorang pulang.
Ia menunggu dirinya sendiri tertidur.
Pukul setengah sembilan, anaknya sudah lelap. Pukul sembilan kurang sepuluh, Fani sudah berbaring di kamar dengan lampu mati, mata terpejam, berharap dengan cara yang membuatnya sedikit malu pada dirinya sendiri. Seperti anak kecil yang menunggu hari ulang tahun.
George ada di sana lagi.
Kali ini bukan di dapur. Ia duduk di teras belakang, di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, membetulkan rantai sepeda kecil anak mereka. Kedua tangannya hitam oleh oli. Di sebelahnya ada kaleng bekas biskuit berisi baut-baut yang tidak pernah jelas milik apa.
Ia mendongak waktu Fani muncul di ambang pintu. Tidak terkejut. Seolah Fani memang baru keluar dari dapur, seolah ini Sabtu sore biasa.
"Pegangin ini bentar, Fan."
Fani duduk di sampingnya dan memegang ujung rantai itu. Logamnya dingin dan licin. Jarinya ikut hitam. Ia tidak peduli.
Ia tidak bertanya apa-apa. Tidak bertanya bagaimana, atau kenapa, atau apakah George tahu. Ada sesuatu dalam dirinya yang yakin bahwa kalau ia bertanya, semua ini akan selesai. Seperti gelembung sabun yang pecah begitu disentuh.
Jadi ia hanya memegang rantai. Dan George hanya mengencangkan baut. Dan untuk beberapa saat, itu sudah cukup.
"Rame, ya, kemarin," kata George akhirnya, tanpa mengangkat kepala.
Fani menahan napas.
"Karangan bunganya sampai depan rumah Pak Darto." George memutar kunci pas. "Pasti dia seneng. Rumahnya kayak buka toko bunga."
Dan Fani tertawa.
Tawanya keluar begitu saja, pendek dan pecah, seperti batuk. Itu tawa pertamanya sejak sore itu. Ia sampai menutup mulut dengan punggung tangan, lupa tangannya berlumur oli, dan George melihat noda hitam di dagunya lalu ikut tertawa, tawa yang sama seperti enam tahun lalu di warung bakmi, waktu es teh tumpah ke kemejanya sendiri.
Lalu tawa mereka mereda. Dan George bertanya, dengan suara yang lebih pelan:
"Mama kamu dateng?"
Fani memandangi rantai di tangannya.
"Kirim bunga," katanya. "Yang paling besar."
George menunggu.
"Kartunya diketik tokonya."
George tidak bilang apa-apa. Ia meletakkan kunci pasnya, mengelap tangannya ke celana pendek yang sudah pasti tidak akan bersih lagi, lalu bersandar ke dinding. Menunggu. George selalu tahu kapan harus menunggu.
Fani tidak tahu kenapa ia mulai bercerita. George sudah tahu semuanya. George sudah mendengar semuanya, dulu, di malam-malam awal pacaran ketika Fani masih menceritakan hidupnya seperti membaca laporan: datar, cepat, tanpa jeda, supaya tidak ada yang sempat kasihan.
Tapi malam ini ia bercerita pelan-pelan.
Tentang rumah di Bekasi dengan dinding yang tipis, terlalu tipis, sampai Fani kecil hafal pola pertengkaran orang tuanya seperti hafal lagu. Selalu dimulai dari uang. Selalu naik di bagian yang sama. Selalu diakhiri dengan pintu yang dibanting, lalu motor ayahnya yang menyala, lalu sunyi yang lebih keras dari teriakan.
Tentang malam ketika ia sebelas tahun dan motor itu tidak kembali.
Tentang ibunya yang menikah lagi dua tahun kemudian, dengan laki-laki yang baik tapi tidak pernah benar-benar melihat Fani. Lalu adik-adik tiri yang lahir, satu, dua, dan rumah yang pelan-pelan menjadi milik keluarga baru itu. Fani tidak pernah diusir. Ia hanya pelan-pelan menjadi tamu. Kamarnya dipakai untuk gudang begitu ia mulai kos, dan tidak ada yang bertanya ia mau pulang kapan.
Tentang uang yang ia cari sendiri sejak kelas dua SMA. Mengajar les privat anak-anak SD di kompleks sebelah. Menjaga stan pameran di akhir pekan. Membayar kuliahnya sendiri, semester demi semester, dengan kuitansi yang ia simpan rapi di map plastik biru, seolah suatu hari nanti ada yang akan memeriksa dan berkata: kamu sudah cukup, Fan. Kamu boleh berhenti sekarang.
Tidak ada yang pernah berkata begitu.
George mendengarkan semuanya tanpa memotong. Dan ketika Fani berhenti, ia hanya bertanya:
"Map birunya masih ada?"
Fani mengangguk. "Di lemari. Paling bawah."
"Kamu nggak pernah buang."
"Nggak."
George tersenyum sedikit. "Kamu tahu nggak, kamu selalu ngerapiin rambut ke belakang telinga kalau cerita yang susah? Dari dulu. Barusan kamu lakuin empat kali."
Fani menyentuh telinganya. Ada noda oli di sana sekarang.
"Kamu udah tahu semua ini," katanya. "Kenapa masih nanya?"
"Karena aku suka dengerin kamu cerita." George mengambil tangan Fani yang hitam itu dan menggenggamnya dengan tangannya yang sama hitamnya. "Dan karena kamu nggak pernah cerita ke siapa-siapa lagi selain aku."
Itu benar. Dan Fani tidak tahu harus menjawab apa.
Pagi berikutnya, waktu Fani menyisir rambut anaknya untuk berangkat ke PAUD, anak itu bertanya sambil memandangi cermin:
"Mama kok tidurnya cepet terus?"
Fani berhenti menyisir sebentar.
"Mama capek, Sayang."
Anaknya mengangguk, puas dengan jawaban itu, seperti anak empat tahun puas dengan hampir semua jawaban. Fani melanjutkan menyisir. Tapi pertanyaan itu menempel di kepalanya sepanjang hari, seperti kerikil kecil di dalam sepatu.
Malam itu ia tetap tidur pukul sembilan.
Di mimpi malam itu, mereka berada di dalam mobil.
Mobil yang sama, tapi tidak ada bantal sofa di kursi belakang, tidak ada lampu merah yang terasa seperti seumur hidup. George yang menyetir. Jalanan kosong dan lurus dan entah menuju ke mana, dan di luar jendela, langit lagi-lagi berwarna jingga pukul lima sore.
"Kamu inget nggak," kata Fani, "pertama kali kamu ngajak aku makan, aku bayar sendiri?"
George tertawa. "Inget banget. Aku sampai mikir kamu nggak suka sama aku."
"Bukan gitu."
"Aku tahu." George melirik sebentar, lalu kembali ke jalan. "Sekarang aku tahu."
Fani memandangi jalanan. Lama.
"Reza dulu nyatet semuanya," katanya akhirnya. "Di notes HP-nya. Makan berapa, bensin berapa, nonton berapa. Terus kalau kami berantem, dia buka notes itu. Dibacain satu-satu. Biar aku inget aku udah ngutang berapa sama dia."
George tidak menoleh. Tapi Fani melihat tangannya mengerat di setir.
"Dia juga suka bilang, aku harusnya bersyukur ada yang mau sama aku. Anak broken home, nggak ada yang ngajarin aku jadi perempuan yang bener. Katanya aku nggak bakal nemu yang lebih baik." Fani mengusap rambut ke belakang telinga. Kelima kalinya. "Dan aku percaya, Ge. Tiga tahun aku percaya. Karena dari kecil yang aku lihat, laki-laki itu ya kayak gitu. Datang, marah, terus pergi. Aku pikir Reza udah lebih baik, karena seenggaknya dia nggak pergi."
Mobil terus melaju. Di luar, langit tidak berubah warna.
"Makanya aku bayar sendiri," kata Fani. "Waktu itu. Aku nggak mau punya utang lagi sama siapa pun."
George diam cukup lama. Lalu, tanpa melepaskan pandangan dari jalan, ia mengulurkan tangan kirinya dan meletakkannya di atas tangan Fani.
"Terus aku ngajak kamu makan lagi minggu depannya."
"Terus aku bayar sendiri lagi."
"Terus aku ngajak lagi."
Fani tertawa kecil. "Kamu nyebelin banget, tahu nggak."
"Tahu." George membalik tangannya, menyelipkan jari-jarinya di antara jari Fani. "Kamu kasih aku banyak banget alasan buat berhenti, Fan. Tapi aku keras kepala."
Fani menatap tangan mereka. Cincin di jari manis George, cincin yang dibeli belakangan, setelah lamaran tanpa cincin di kontrakan sempit itu. Cincin yang sekarang ada di kotak beludru di laci meja riasnya, karena ia tidak tahu harus diapakan.
"Aku nggak pernah ngerti," katanya pelan, "kenapa kamu nggak pergi."
George tersenyum. Senyum miring itu.
"Mau aku ceritain? Dari sisi aku?"
Fani membuka mulut untuk menjawab.
"Ma. Mama. Udah pagi."
Tangan kecil menepuk-nepuk pipinya. Cahaya matahari masuk dari celah gorden, putih dan terlalu terang. Anaknya duduk di atas perutnya, masih dengan piyama, rambutnya mencuat ke segala arah.
"Ma, aku laper."
Fani memandangi wajah kecil itu. Wajah yang matanya persis mata George.
Ia tersenyum. Ia bangun. Ia membuatkan sarapan.
Tapi di dapur, sambil memecah kuning telur yang tidak boleh meleleh itu, ada sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, dan yang membuatnya sedikit takut pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Fani membenci pagi.
Episode 3: Yang Mengejar
Senin itu Fani kembali masuk kantor.
Rekan-rekannya menyambutnya dengan hati-hati, cara orang menyambut seseorang yang baru keluar dari rumah sakit. Suara mereka sedikit lebih pelan dari biasanya. Di mejanya ada sebatang cokelat, sebuah kartu yang ditandatangani satu divisi, dan setumpuk dokumen yang sudah ada yang merapikan. Fani mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Ia menyalakan laptop. Tiga ratus dua puluh tujuh email belum dibaca.
Ia membuka yang pertama dan membaca kalimat pembukanya tiga kali tanpa mengerti isinya.
Pukul dua siang, di tengah rapat yang tidak ia ingat topiknya, Fani mendapati dirinya melirik jam di pojok layar dan menghitung.
Tujuh jam lagi.
Malam itu George menunggunya di warung bakmi.
Warung yang itu. Dekat kantor lamanya, dengan meja plastik merah yang selalu sedikit lengket, sendok bebek di dalam gelas, dan kipas angin di sudut yang berputar dengan bunyi berdecit. Di luar, langit jingga pukul lima sore, seperti biasa.
Dua mangkuk sudah ada di meja. Bakmi ayam, tanpa daun bawang, pangsitnya dipisah. Pesanan Fani. Sejak kencan pertama, George tidak pernah salah memesankannya.
"Jadi," kata George, menyendok kuah, "dari sisi aku."
Fani menarik kursi dan duduk. Ia tidak menyentuh mangkuknya. Ia memandangi George, cara orang memandangi sesuatu yang takut ia lupakan bentuknya.
"Pertama kali aku lihat kamu itu di lift," kata George. "Kamu bawa map tebal banget, sampai dagu kamu nempel di atasnya. Terus tiap ada orang masuk, kamu bilang maaf. Padahal kamu nggak ngapa-ngapain. Kamu cuma berdiri."
"Aku nggak inget."
"Aku inget. Lantai dua sampai lantai sembilan, kamu bilang maaf empat kali." George tersenyum. "Aku pikir, ini perempuan kenapa minta maaf terus cuma karena ada di situ."
Fani menunduk ke mangkuknya. Uapnya naik pelan.
"Terus kencan pertama itu," lanjut George. "Es teh tumpah. Kamu bayar sendiri. Aku pulang malam itu, terus nelepon Mama."
"Kamu nelepon Mama kamu? Gara-gara aku?"
"Gara-gara aku bingung." George tertawa kecil. "Aku cerita semuanya. Terus Mama diem lama, terus dia bilang gini: Perempuan yang biasa jalan sendiri itu bukan nggak mau digandeng, Ge. Dia cuma belum percaya tangannya nggak bakal dilepas."
Fani berhenti bernapas sebentar.
Ia mengenal ibu mertuanya enam tahun. Perempuan yang selalu memasak terlalu banyak, yang tertawa terlalu keras di acara keluarga, yang di pemakaman kemarin memeluk Fani paling lama dan paling diam. Fani tidak pernah tahu kalimat itu pernah ada.
"Jadi minggu depannya," kata George, "aku nggak bayarin kamu. Aku bilang gantian aja. Minggu ini kamu, minggu depan aku. Inget?"
Fani ingat. Ia ingat betapa leganya ia waktu itu, dan betapa bingungnya ia pada rasa lega itu.
"Kamu nyatet?" tanyanya. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia mau. "Gantiannya?"
George memandanginya lama. Ia tahu kenapa Fani bertanya. Ia tahu tentang notes di HP Reza.
"Nggak pernah," katanya. "Sekali pun nggak."
Mereka makan. Atau tepatnya, George makan, dan Fani memperhatikan George makan. Cara ia meniup mi sebelum menyuapnya. Cara ia selalu menyisakan satu pangsit terakhir di mangkuk Fani tanpa bertanya, karena tahu Fani selalu menyimpan yang terakhir untuk akhir.
"Kamu inget berantem pertama kita?" tanya George.
Fani ingat. Ia tidak ingat soal apa. Ia hanya ingat tubuhnya.
Ia ingat bagaimana suara George sedikit meninggi, tidak banyak, hanya sedikit, dan bagaimana bahunya sendiri langsung naik, tangannya dingin, telinganya siap mendengar sesuatu yang sudah ia hafal sejak kecil. Pintu yang dibanting. Kunci motor yang direnggut dari meja. Mesin yang menyala, lalu menjauh, lalu sunyi.
Tapi yang ia dengar waktu itu lain.
Aku ke teras dulu, ya. Sepuluh menit. Nanti aku balik, kita lanjut.
Dan pintunya ditutup pelan. Tidak dibanting.
"Kamu tahu nggak," kata Fani, "aku berdiri di jendela. Ngitungin."
"Tahu." George menyesap es tehnya. "Kelihatan dari teras. Kamu ngintip dari balik gorden, kayak maling."
"Kamu lihat?"
"Lihat. Makanya aku balik di menit kesembilan." George meletakkan gelasnya. "Aku pengin kamu tahu, aku bisa balik lebih cepet dari yang aku janjiin."
Fani tidak bisa bicara. Waktu itu George masuk membawa dua cangkir teh. Satu untuknya, satu untuk Fani, padahal mereka sedang marahan. Dan mereka duduk di lantai ruang tamu dan menyelesaikan pertengkaran itu dengan suara pelan, dan tidak ada yang pergi.
Sejak itu, setiap kali mereka bertengkar, George selalu bilang hal yang sama. Aku ke teras dulu. Sepuluh menit. Enam tahun. Ia tidak pernah lewat dari sepuluh menit. Tidak sekali pun.
Kecuali sekarang.
Fani menyingkirkan pikiran itu sebelum sempat selesai.
Di mimpi malam berikutnya, mereka ada di rumah orang tua George. Minggu siang. Rumah itu ramai seperti biasanya: keponakan berlarian, televisi menyala tanpa ada yang menonton, bau rendang dari dapur.
Ini makan siang pertama Fani di rumah itu. Ia ingat betapa kakunya ia duduk, betapa ia tidak tahu harus meletakkan tangan di mana. Ia ingat ayah George bertanya tentang pekerjaannya, lalu benar-benar mendengarkan jawabannya, lalu bertanya lagi. Ia ingat ibu George mengambil piringnya tanpa bertanya, mengisinya dengan nasi, rendang, sayur nangka, sambal, lalu meletakkannya kembali di depan Fani sambil bilang, kurus banget, makan yang banyak.
Dan ia ingat bagaimana ia permisi ke kamar mandi tidak lama setelah itu, mengunci pintu, menyalakan keran, dan menangis tanpa suara.
Karena tidak pernah ada yang mengisikan piringnya. Seumur hidupnya. Tidak sekali pun.
"Aku tahu kamu nangis," kata George. Mereka duduk di tangga belakang rumah itu sekarang, jauh dari keramaian, dengan sepiring kue lapis di antara mereka.
"Kok tahu?"
"Kamu lama banget di kamar mandi. Terus pas keluar, kamu nyelipin rambut ke telinga dua kali sebelum duduk." George mengambil sepotong kue dan mengupas lapisannya satu per satu, kebiasaan yang selalu membuat Fani geleng-geleng. "Mama juga tahu. Makanya dia nambahin rendang ke piring kamu lagi."
Fani tertawa. Lalu tawanya berubah jadi sesuatu yang lain, dan ia membiarkannya. George tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeser sepiring kue lapis itu lebih dekat ke Fani.
"Setahun kemudian kamu ngelamar aku," kata Fani, setelah napasnya tenang. "Tanpa cincin."
"Takut kamu nggak suka modelnya."
"Dan aku bilang nggak."
George mengangguk. Ia tidak terlihat sakit hati. Ia terlihat seperti orang yang sudah tahu jawaban itu akan datang, dan sudah memutuskan untuk menunggu.
"Kamu bilang kamu nggak tahu caranya bikin rumah," katanya. "Karena rumah kamu dulu nggak pernah jadi rumah."
"Dan kamu bilang..."
"Ya udah, kita bikin yang baru. Dari nol. Nggak usah niru siapa-siapa." George tersenyum. "Terus kamu nangis lagi. Terus seminggu kemudian kamu bilang iya."
Fani memandangi kue lapis di tangannya, lapisannya yang cokelat dan putih bergantian. Rapi. Seperti sesuatu yang dibangun pelan-pelan, satu lapis menunggu lapis sebelumnya matang.
Siang-siang Fani mulai berubah bentuk.
Ia tetap bangun. Tetap menyiapkan sarapan, mengantar anaknya ke PAUD, berangkat kerja, pulang. Tapi semuanya terasa seperti menonton dari balik kaca. Ia mendengar orang bicara padanya dan menjawab dengan benar, tapi kalau ditanya sejam kemudian, ia tidak bisa mengulang apa yang dibicarakan.
Suatu Sabtu, setelah makan siang, ia mencoba tidur siang. Menutup gorden, mematikan lampu, berbaring di sisi ranjangnya sendiri. Ia tertidur. Tapi yang datang hanya kelabu. Tidak ada dapur, tidak ada teras, tidak ada George. Ia terbangun satu jam kemudian dengan mulut kering dan dada yang terasa seperti dirampok.
Sejak itu ia tahu. George hanya datang di malam hari.
Jadi malam hari menjadi satu-satunya waktu yang penting.
Ia mulai menyuruh anaknya makan malam lebih awal. Pukul enam. Lalu mandi, lalu sikat gigi, lalu tidur. Belum ngantuk, Ma, kata anaknya. Coba merem aja dulu, jawab Fani, dan ia menunggu di ambang pintu kamar sampai napas anaknya teratur, lalu buru-buru ke kamarnya sendiri.
Rina menelepon dua kali minggu itu. Fani tidak mengangkat. Rina mengirim pesan: Fan, kamu oke? Kabarin ya. Fani membacanya. Dua centang biru. Ia tidak membalas.
Guru PAUD mengirim pesan di grup orang tua: Ayah Bunda, pentas akhir bulan anak-anak jadi kelinci, mohon disiapkan bando telinga kelinci ya. Fani membalas dengan jempol.
Lalu ia lupa.
Malam itu, di mimpi, mereka ada di ruang bersalin.
Bukan saat persalinan. Sesudahnya. Ruangan yang tenang, lampu yang diredupkan, dan bayi yang tertidur di dada Fani, kecil dan merah dan berbau seperti sesuatu yang baru. George duduk di kursi di samping ranjang. Wajahnya masih basah. Lebih basah dari wajah Fani.
Fani tahu ini mimpi. Bayi itu sekarang empat tahun dan tidur di kamar sebelah. Tapi beratnya di dada terasa nyata, dan ia tidak mau melepaskannya.
"Waktu dia lahir," kata George pelan, supaya bayinya tidak bangun, "kamu tahu nggak yang aku pikirin?"
"Apa?"
George mengusap kepala kecil itu dengan satu jari. Hati-hati sekali. Seperti menyentuh sesuatu yang bisa hilang.
"Semoga dia nggak pernah perlu bayar bakminya sendiri," katanya, "cuma supaya ngerasa aman."
Fani memejamkan mata.
Di ruangan itu, di bawah lampu redup, dengan bayi di dadanya dan George di sampingnya, ia merasa seperti seseorang yang akhirnya tiba di rumah setelah perjalanan yang sangat jauh. Ia ingin tinggal di sini. Selamanya. Ia tidak butuh pagi. Ia tidak butuh siang. Ia hanya butuh ini.
George memandanginya. Lama. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Senyumnya masih ada, tapi matanya tidak lagi ikut tersenyum.
"Fan," katanya. "Tadi siang kamu ngapain aja?"
Fani membuka mulut untuk menjawab.
Dan ia tidak bisa mengingat satu hal pun.
Episode 4: Siang yang Kosong
"Kerja," kata Fani akhirnya. "Biasa."
Ia mengucapkannya dengan ringan, cara ia dulu mengucapkan aku baik-baik aja kepada guru BK di SMA, kepada teman kos, kepada Reza. Kalimat yang sudah dilatih bertahun-tahun sampai terdengar seperti kebenaran.
Tapi ini George. Dan George, sejak lift itu, sejak lantai dua sampai lantai sembilan, selalu bisa membedakan.
Ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan, memandangi bayi di dada Fani, lalu bertanya hal lain.
"Dia masih takut gelap?"
Fani membuka mulut. Menutupnya lagi.
Dulu, setiap malam, George yang menemani anak mereka sampai tertidur. Lampu tidur berbentuk bulan, satu buku cerita, dan lagu yang selalu fals di nada yang sama. Kalau anak mereka terbangun tengah malam karena gelap, George yang bangun. Selalu George.
Sekarang, setiap malam, Fani menunggu di ambang pintu sampai napas anaknya teratur. Lalu ia pergi. Cepat-cepat. Ke kamarnya sendiri, ke tidurnya sendiri, ke sini.
Ia tidak tahu apakah anaknya masih terbangun tengah malam. Ia tidak pernah ada di sana untuk tahu.
"Fan," kata George pelan.
Tapi Fani sudah memejamkan mata, memeluk bayi itu lebih erat, dan pura-pura tidak mendengar. Seperti anak kecil yang menutup telinga supaya pertengkaran di kamar sebelah tidak ada.
Pentas akhir bulan jatuh pada hari Jumat.
Fani ingat pagi itu, waktu ia mengantar anaknya ke PAUD dan melihat seorang ibu turun dari motor dengan kantong plastik berisi bando telinga kelinci warna putih. Ia ingat pikiran pertamanya: lucu. Ia ingat pikiran keduanya datang tiga detik kemudian, dingin, seperti air es yang tumpah ke punggung.
Ia lupa.
Ia minta izin keluar kantor lebih awal. Ia mampir ke tiga toko alat tulis di sepanjang jalan. Toko pertama tidak punya. Toko kedua hanya punya bando telinga kucing. Toko ketiga sudah tutup. Waktu ia akhirnya sampai di aula PAUD, napas terengah, tangan kosong, pentas sudah dimulai.
Dua belas anak berdiri di panggung kecil yang dihiasi kertas krep hijau. Sebelas memakai telinga kelinci putih yang bergoyang-goyang setiap kali mereka melompat.
Anaknya berdiri di ujung barisan. Tanpa bando.
Di pelukannya, boneka kelinci yang sudah kumal itu. Boneka yang sama yang dipeluknya sore itu, di sudut kamar, waktu ia memanggil Papa kepada laki-laki yang tidak menjawab.
Anaknya melompat bersama yang lain. Boneka itu ikut melompat. Telinganya yang panjang dan layu terayun-ayun, terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.
Fani berdiri di belakang aula, di antara orang tua lain yang mengangkat ponsel untuk merekam. Ia tidak mengangkat ponselnya. Ia tidak bisa bergerak.
Setelah pentas, anaknya berlari ke arahnya, wajahnya berkeringat dan merah.
"Mama dateng!"
Fani berlutut dan memeluknya. Bau keringat anak kecil, bau bedak, bau kertas krep.
"Maaf, ya, Sayang," bisiknya. "Mama lupa beliin telinganya."
Anaknya melepaskan diri dari pelukan, memandanginya dengan serius, lalu mengangkat boneka kelinci itu tinggi-tinggi.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku bawa kelinci beneran."
Dan ia tersenyum. Senyum yang lebar dan bangga dan sedikit miring.
Fani kenal senyum itu. Itu senyum George.
Tapi ada hal lain di wajah kecil itu, sesuatu yang membuat dada Fani tiba-tiba terasa terlalu sempit. Cara anaknya buru-buru bilang nggak apa-apa sebelum Fani sempat merasa bersalah. Cara ia sudah menyiapkan jawaban, sudah mengatasi masalahnya sendiri, sudah memutuskan untuk tidak meminta apa-apa.
Fani kenal itu juga.
Itu dirinya. Umur sebelas tahun. Berdiri di depan pintu rumah di Bekasi, bilang nggak apa-apa, Ma waktu ibunya lupa datang ke pembagian rapor. Lalu pulang sendiri naik angkot, dengan rapor di dalam tas, dan tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Anaknya baru empat tahun. Dan ia sudah belajar caranya.
Malam itu Fani tidak langsung tidur.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia duduk di tepi ranjang anaknya setelah lampu dimatikan. Lampu tidur berbentuk bulan menyala redup di meja kecil. Anaknya sudah memejamkan mata, boneka kelinci di pelukan, tapi napasnya belum teratur.
"Ma," katanya dengan mata masih tertutup.
"Hm?"
"Papa kalau nyanyi, salah terus ya, nadanya."
Fani tertawa pelan. Tenggorokannya sakit. "Iya. Salah terus."
"Mama bisa nyanyi yang salah juga?"
Fani memandangi wajah kecil itu dalam cahaya bulan plastik. Lalu ia menyanyikan lagu itu. Pelan, terbata-bata, dan di nada yang sama, ia sengaja membuatnya fals.
Anaknya tersenyum dengan mata terpejam.
Fani terus bernyanyi sampai napas kecil itu teratur. Lalu masih bernyanyi sebentar lagi, untuk dirinya sendiri.
George menunggunya di teras.
Teras depan rumah mereka, di malam hari, dengan lampu kuning di atas pintu yang dikerubungi laron. George duduk di anak tangga paling bawah, sikunya di atas lutut. Persis seperti setiap kali ia bilang aku ke teras dulu, sepuluh menit.
Fani duduk di sampingnya. Untuk beberapa lama, tidak ada yang bicara.
"Dia bawa boneka kelinci," kata Fani akhirnya. "Ke pentas. Karena aku lupa beliin bando."
George mengangguk. Seolah sudah tahu.
"Terus dia bilang nggak apa-apa. Sebelum aku sempet minta maaf, dia udah bilang nggak apa-apa." Suara Fani retak. "Umur empat tahun, Ge. Dan dia udah tahu caranya nggak minta apa-apa."
George diam lama. Laron-laron berputar di atas mereka, menabrak bola lampu, jatuh, terbang lagi.
"Map birunya masih ada, kan?" kata George pelan. "Di lemari. Paling bawah."
Fani menunduk.
"Aku nggak mau dia punya map biru, Fan."
Fani tahu apa yang akan George katakan berikutnya. Ia sudah tahu sejak di ruang bersalin, sejak pertanyaan tentang siang hari, mungkin sejak malam pertama di dapur. Ia hanya pura-pura tidak tahu, karena selama ia pura-pura, kalimat itu tidak akan pernah diucapkan.
"Kamu harus mulai lepasin aku."
Dan kalimat itu diucapkan. Pelan, tanpa paksaan, dengan suara yang sama yang dulu bilang gantian aja dan kita bikin yang baru.
"Nggak."
"Fan..."
"Nggak." Fani memegang lengan George dengan dua tangan, kuat-kuat, seperti waktu ia memegang setir sore itu. "Kamu janji. Tiap kali kamu ke teras, kamu bilang sepuluh menit. Kamu selalu balik. Enam tahun kamu selalu balik, Ge. Nggak pernah lewat sekali pun."
George memandanginya. Matanya basah. Senyumnya masih ada, tapi kali ini senyum itu terlihat seperti sesuatu yang sedang ia tahan supaya tidak runtuh.
"Kali ini aku nggak bisa balik, Fan." Ia meletakkan tangannya di atas tangan Fani. "Makanya kamu yang harus masuk ke dalam."
Fani menoleh ke pintu di belakang mereka. Pintu rumahnya sendiri. Di baliknya, ia tahu, ada dapur dengan rak yang terlalu tinggi, ada sofa yang kosong, ada sandal rumah sepasang di dekat pintu. Ada kamar kecil dengan lampu tidur berbentuk bulan, dan seorang anak yang mungkin sedang terbangun karena gelap.
"Belum," bisik Fani. "Jangan malam ini."
George memandanginya lama sekali. Lalu ia mengangguk.
"Oke," katanya. "Bukan malam ini."
Fani menyandarkan kepalanya ke bahu George. Bahu yang lebar, yang selalu mengangkat galon dan koper dan anak yang tertidur di sofa. Ia memejamkan mata dan mendengarkan laron menabrak lampu, dan napas George, dan detak jantung yang entah milik siapa.
George tidak bergerak. Tapi ia juga tidak melepaskan tangan Fani. Ia menggenggamnya dengan cara yang berbeda dari biasanya: lebih erat, lebih lama, seolah sedang menghafal bentuknya.
Dan dari cara itu, Fani tahu.
Malam itu akan datang.
Episode 5: Malam Terakhir
Malam itu tidak datang esoknya. Tidak juga lusa.
George masih ada setiap kali Fani tidur. Di dapur, di teras belakang, sekali di pinggir kolam renang hotel kecil di Anyer tempat mereka berbulan madu. Mereka bicara tentang hal-hal kecil. Harga cabai. Serial yang masih tertunda. Keponakan George yang baru belajar naik sepeda. George tidak mengulang kalimatnya di teras. Fani tidak mengungkitnya.
Tapi ada yang berubah di siang hari, dan Fani tidak sepenuhnya tahu kapan itu dimulai.
Ia mulai menemani anaknya sampai tertidur, setiap malam, dengan lagu yang sengaja dibuat fals. Ia membalas pesan Rina, tiga minggu terlambat: Maaf, Rin. Aku belum oke. Tapi aku masih di sini. Rina membalas dalam dua menit dengan satu stiker beruang memeluk dan satu kalimat: Itu udah cukup buat sekarang.
Ia menjemput anaknya dari PAUD sendiri, tidak lagi menitipkan ke istri Pak Darto. Di perjalanan pulang, anaknya bercerita tentang temannya yang menangis karena krayonnya patah, dan Fani mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Waktu sampai di rumah, ia bisa mengulang ceritanya dengan lengkap.
Siang-siangnya tidak lagi kosong. Tidak penuh juga. Tapi ada isinya.
Jadwal kontrol berikutnya jatuh pada hari Kamis.
Ruangan yang sama. Dua kursi berhadapan, tanaman yang daunnya mengilap. Gelas air putih di meja. Kali ini Fani meminumnya sebelum dipersilakan.
Dr. Jerren memandanginya sebentar, cara dokter memandangi luka yang mulai menutup.
"Tidurnya bagaimana, Bu Fani?"
Fani memikirkan pertanyaan itu lebih lama dari seharusnya.
"Nyenyak, Dok," katanya akhirnya. "Nyenyak banget."
Dr. Jerren mengangguk dan menulis sesuatu.
"Dok," kata Fani. "Saya rasa saya udah siap."
Dr. Jerren berhenti menulis. Ia mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat Fani merasa dokter itu menatapnya seperti seseorang yang tahu jauh lebih banyak dari yang ia ucapkan.
"Siap untuk apa, Bu?"
Fani menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Pamit."
Dr. Jerren tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, lalu kembali menulis.
Malam itu Fani tidak buru-buru tidur.
Ia menemani anaknya sampai tertidur, lalu duduk di sana sedikit lebih lama, memandangi lampu tidur berbentuk bulan. Ia mencuci piring yang masih tersisa. Ia membuka lemari baju dan lama memandangi kemeja-kemeja George yang masih tergantung, lalu menutupnya lagi tanpa menyentuh apa pun. Ia mematikan semua lampu kecuali lampu dapur.
Pukul sepuluh lewat, ia berbaring. Ia tidak berharap. Ia tidak menunggu. Ia hanya memejamkan mata, seperti orang yang tahu ada sesuatu yang harus ia jemput.
Dapur itu.
Dapur yang sama seperti malam pertama. Ubin yang sama, lampu kuning yang sama, lemari dengan rak yang terlalu tinggi. Tapi langit di luar jendela tidak jingga lagi.
Untuk pertama kalinya, di mimpi ini, hari sudah malam.
George berdiri di depan kompor. Ia sedang menjerang air. Di meja ada dua cangkir: cangkir biru bergambar paus milik Fani, dan cangkir putih polos yang selalu George pakai karena katanya ia tidak butuh gambar apa-apa. Toples gula sudah turun dari rak, terbuka di samping kompor.
"Duduk, Fan," katanya tanpa menoleh. "Bentar lagi."
Fani duduk di kursi makan. Ia memperhatikan punggung George. Bahunya. Cara ia berdiri sedikit miring, bertumpu di kaki kiri, kebiasaan yang tidak pernah Fani sadari ia hafal sampai sekarang.
George menuangkan air panas, mengaduk gula, dua sendok untuk Fani, satu untuk dirinya. Ia meletakkan cangkir paus di depan Fani, lalu duduk di seberangnya.
Uapnya naik di antara mereka.
"Kamu tahu, ya," kata Fani. Bukan pertanyaan.
"Tahu."
Fani memeluk cangkirnya dengan dua tangan. Hangat.
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana."
"Dari mana aja," kata George. "Kita punya waktu."
Tapi mereka berdua tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Fani mulai dari hal yang paling berat. Karena kalau tidak sekarang, ia tahu ia tidak akan pernah sanggup.
"Sore itu," katanya. "Kalau aku pulang lebih cepet. Kalau aku dengar kamu batuk. Kalau malemnya aku suruh kamu tidur..."
"Fan."
"Aku mikirin itu tiap hari, Ge. Tiap hari."
George meraih tangan Fani di atas meja dan membukanya dari cangkir, pelan, satu jari demi satu jari, lalu menggenggamnya.
"Nggak ada kalau," katanya. "Dengerin aku. Nggak ada satu pun dari itu yang salah kamu. Kamu pulang jam berapa pun, kamu dengar atau nggak dengar apa pun, hasilnya sama. Kamu ngerti?"
Fani tidak menjawab.
"Kamu ngerti, Fan?"
Ia mengangguk. Air matanya jatuh ke atas tangan mereka yang bertaut. George tidak menghapusnya. Ia membiarkannya.
Lalu giliran George.
Ia bicara pelan, seperti orang yang sudah lama menyusun kalimat-kalimatnya dan tidak mau ada yang tercecer.
"Rak itu," katanya, dan Fani tertawa di sela tangisnya. "Serius. Beli kursi kecil. Taruh di pojok dapur. Atau minta Pak Darto turunin raknya. Jangan berjinjit-jinjit terus, nanti jatuh."
"Oke."
"Anak kita." Suara George berubah sedikit. "Tiap malem nyanyiin. Yang fals. Dan kalau dia bilang nggak apa-apa sebelum kamu sempet minta maaf..."
"Jangan langsung percaya."
"Jangan langsung percaya." George tersenyum. "Peluk dulu. Tanya lagi besoknya."
Fani mengangguk.
"Mama aku. Datengin, ya, tiap Minggu kalau bisa. Dia bakal ngisiin piring kamu terus, dan kamu bakal kekenyangan, dan itu nggak apa-apa." George berhenti sebentar. "Dia juga kehilangan, Fan. Kalian bisa saling pegangan."
"Iya."
"Rina. Angkat teleponnya."
Fani tertawa lagi, basah. "Iya."
George diam. Ia memandangi Fani lama, lalu menarik napas, seperti orang yang akan mengatakan hal terakhir dan paling penting.
"Kamu boleh minta tolong, Fan. Ke Mama, ke Rina, ke siapa aja. Minta tolong itu bukan utang. Nggak ada yang nyatet."
Fani memejamkan mata.
"Dan map biru itu." Suara George pelan sekali sekarang. "Buang, ya."
Fani membuka mata.
"Kamu udah cukup, Fan. Dari dulu kamu udah cukup." George mengeratkan genggamannya. "Kamu boleh berhenti sekarang."
Dan Fani, yang seumur hidupnya menyimpan kuitansi demi kuitansi di map plastik biru, menunggu seseorang mengucapkan kalimat itu, akhirnya mendengarnya.
Ia menangis. Bukan seperti di lantai dapur malam itu, yang terdengar seperti sesuatu yang dirobek. Tangis ini lain. Tangis ini terdengar seperti sesuatu yang akhirnya diletakkan.
Setelah napasnya tenang, giliran Fani.
Ia sudah memikirkan banyak kalimat dalam beberapa hari ini. Kalimat yang panjang, kalimat yang indah. Tapi sekarang, di depan George, di dapur ini, semuanya terasa terlalu banyak.
"Aku nggak pernah mikir orang kayak kamu itu ada," katanya akhirnya. "Seumur hidup aku, Ge. Aku pikir laki-laki kayak kamu cuma ada di film. Dan kamu dateng, dan kamu nggak pergi, padahal aku kasih kamu banyak banget alasan buat pergi."
George tersenyum. Senyum miring itu.
"Makasih udah ngejar aku," kata Fani. "Makasih udah balik di menit kesembilan. Makasih udah ngajarin aku kalau rumah itu bisa dibikin dari nol."
Ia menggenggam tangan George dengan dua tangannya.
"Aku bakal jagain rumahnya. Aku janji. Aku bakal jagain dia."
George mengangguk. Matanya basah.
"Aku tahu," katanya. "Dari awal aku tahu."
Mereka minum teh mereka. Pelan-pelan. Tidak ada yang buru-buru menghabiskan cangkirnya. Di luar jendela, malam tetap malam. Jam dinding berdetak, tapi Fani tidak mendengarnya lagi.
Cangkir mereka kosong.
George berdiri. Ia mencuci kedua cangkir itu di wastafel, seperti setiap malam selama enam tahun, lalu meletakkannya terbalik di rak piring. Ia mengelap tangannya ke celana. Ia mengembalikan toples gula ke samping kompor, bukan ke rak paling atas.
Lalu ia berjalan ke pintu dapur yang menuju ke teras belakang. Tangannya di gagang pintu.
Ia menoleh.
"Aku ke teras dulu, ya."
Fani menunggu.
Menunggu kata-kata berikutnya. Sepuluh menit. Nanti aku balik. Kita lanjut. Kata-kata yang selalu datang, enam tahun, tidak pernah sekali pun absen.
Tapi kali ini George tidak mengatakannya.
Ia hanya tersenyum. Dan menunggu Fani menjawab.
Fani memandanginya. Laki-laki di ambang pintu itu, dengan kaus abu-abu dan senyum yang sedikit miring, yang dulu menumpahkan es teh ke kemejanya sendiri, yang tidak pernah mencatat apa pun, yang selalu kembali sebelum menit kesepuluh.
Ia ingin berdiri. Ingin mengejar. Ingin menahan pintu itu tetap terbuka.
Ia tetap duduk.
"Iya," katanya. "Hati-hati, Ge."
George mengangguk. Pintu itu terbuka. Di baliknya, tidak ada teras. Hanya cahaya yang lembut dan tidak berwarna.
George melangkah keluar. Pintunya tertutup di belakangnya.
Pelan. Tidak dibanting.
Fani membuka mata.
Kamar masih gelap. Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Di sisi kiri ranjang, seprainya rata dan dingin.
Pipinya basah. Bantalnya basah. Ia tidak ingat kapan mulai menangis, dan ia tidak berusaha berhenti. Ia membiarkannya. Ia berbaring di sana, menangis pelan, sampai azan subuh terdengar dari masjid di ujung kompleks dan langit di balik gorden berubah dari hitam menjadi kelabu menjadi sesuatu yang hampir biru.
Lalu ia bangun.
Ia masuk ke kamar anaknya. Anak itu tidur telentang, mulutnya sedikit terbuka, boneka kelinci terjepit di bawah lengannya. Lampu bulan masih menyala. Fani duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut kecil itu, lama, sampai anaknya menggeliat dan membuka mata setengah.
"Mama?"
"Pagi, Sayang."
Anaknya mengucek mata. "Mama nangis?"
Fani tidak bilang nggak apa-apa.
"Iya," katanya. "Mama kangen Papa."
Anaknya memandanginya sebentar. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menyodorkan boneka kelincinya kepada Fani. Fani menerimanya, dan memeluk keduanya sekaligus.
Di dapur, Fani menjerang air.
Ia membuka toples gula di samping kompor. Kosong.
Ia menengadah ke rak paling atas. Pojok kanan, di belakang kaleng biskuit Lebaran.
Lalu ia menarik kursi makan, membawanya ke depan lemari, dan naik ke atasnya. Kursi itu sedikit goyang. Ia berpegangan ke pintu lemari. Ia membuka rak itu, menggeser kaleng biskuit, dan meraih toples cadangan di belakangnya.
Ternyata tidak setinggi itu.
Ia turun dengan hati-hati, toples di pelukan. Ia mengisi toples di samping kompor. Ia membuat dua cangkir teh: satu di cangkir biru bergambar paus, satu lagi susu cokelat hangat di gelas plastik kecil bergambar kelinci.
Sambil menunggu air mendidih, ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan.
Rin. Nanti sore bisa mampir? Aku mau minta tolong.
Ia memandangi kalimat itu lama. Lalu menekan kirim.